Blog
Daun Pepaya untuk DBD: Apa Kata Penelitian dan Apa Batas Buktinya?
Setiap kali trombosit seorang pasien demam berdarah turun, hampir selalu ada kerabat yang datang membawa daun pepaya. Kebiasaan ini begitu lazim sehingga daun pepaya untuk DBD dianggap pengetahuan umum. Pertanyaannya: seberapa kuat buktinya, dan sampai di mana batasnya?
Pertanyaan itu kembali relevan menjelang musim hujan. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mencatat 1.808 kasus DBD sepanjang Januari hingga 15 Oktober 2026, sebagaimana diumumkan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat. Di Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan provinsi mencatat 3.424 kasus dengan 18 kematian hingga 10 Oktober 2026 dan memperkirakan risiko naik pada November–Desember, menurut keterangan pejabat Dinkes Sumsel yang dikutip harian Sumatera Ekspres.
Mengapa Trombosit Menjadi Sorotan
Virus dengue memengaruhi sumsum tulang dan sistem pembekuan, sehingga trombosit turun pada hari-hari tertentu. Angka trombosit mudah diukur dan mudah dipahami keluarga, sehingga perhatian sering terpusat ke sana.
Padahal bahaya utama DBD bukan semata trombosit rendah, melainkan kebocoran plasma yang dapat berujung syok. Fase paling rawan justru sering datang ketika demam mulai turun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam lembar fakta dengue menyebut gejala berat kerap muncul setelah demam hilang. Inilah alasan mengapa fokus pada daun pepaya saja bisa menyesatkan.
Daun Pepaya untuk DBD Menurut Penelitian
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang banyak dirujuk ditulis oleh Rajapakse dan rekan (2019) di BMC Complementary and Alternative Medicine. Mereka menelaah sembilan uji terkontrol dari India, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia yang memakai ekstrak daun pepaya.
Hasilnya: tujuh studi melaporkan trombosit lebih tinggi pada kelompok yang mendapat ekstrak daun pepaya. Gabungan tiga studi dengan 129 peserta menunjukkan kenaikan trombosit rata-rata sekitar 35 ribu per mikroliter antara hari pertama dan hari kelima dibanding kontrol. Gabungan tiga studi lain menunjukkan lama rawat inap lebih singkat sekitar dua hari.
Namun para penulis menilai kualitas buktinya rendah. Sebagian besar studi berisiko bias tinggi, metodenya kurang jelas, dosisnya tidak seragam dan belum dioptimalkan, dan tidak satu pun menilai angka kematian atau kebocoran plasma. Kesimpulan mereka tegas: penggunaan rutin ekstrak pepaya untuk DBD belum dapat direkomendasikan berdasarkan bukti yang ada. Naskah lengkapnya tersedia di PubMed Central.
Efek samping yang tercatat umumnya ringan, terutama mual dan muntah. Keluhan ini penting diperhatikan, sebab muntah terus-menerus pada pasien DBD justru merupakan tanda bahaya yang membuat asupan cairan terganggu.
Ekstrak dalam Penelitian Berbeda dengan Jus Rumahan
Uji-uji di atas memakai sediaan ekstrak daun pepaya yang diberikan dan dipantau peneliti, dengan bentuk dan dosis yang berbeda-beda antarstudi. Hasilnya tidak dapat dipindahkan begitu saja ke jus daun pepaya buatan rumah.
Jus rumahan berbeda dalam banyak hal: jumlah daun yang dipakai tidak terukur, kadar zat aktifnya tidak diketahui, kebersihan pengolahannya bervariasi, dan rasa pahitnya dapat memicu mual. Satu hal yang sama dari keduanya: tidak ada yang terbukti mengurangi risiko syok atau kematian akibat DBD.
Bila Keluarga Mempertimbangkan Daun Pepaya
Bukti saat ini belum mendukung penggunaan rutin daun pepaya untuk DBD. Bila keluarga tetap mempertimbangkannya, pemakaian itu tidak boleh menunda pemeriksaan dan perlu dibicarakan dulu dengan dokter yang merawat. Beberapa hal yang perlu dipahami:
- Dokter perlu tahu. Semua yang dikonsumsi pasien memengaruhi cara dokter menilai keluhan dan hasil laboratorium.
- Cairan tetap prioritas. Minuman pahit dalam jumlah banyak bisa memicu mual dan mengurangi minum air, oralit, atau kuah.
- Muntah berulang adalah tanda bahaya. Kondisi ini alasan untuk segera kembali ke faskes, bukan untuk menambah ramuan.
- Trombosit naik belum berarti aman. Fase kritis bisa terjadi ketika demam turun, apa pun yang dikonsumsi pasien.
Untuk demam dan nyeri, WHO menganjurkan parasetamol serta istirahat dan minum yang cukup. Obat antiradang nonsteroid seperti ibuprofen dan aspirin perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Tanda Bahaya DBD yang Tidak Boleh Ditunda
Segera bawa ke IGD atau faskes terdekat bila muncul salah satu tanda berikut, yang dirangkum dari lembar fakta WHO:
- Nyeri perut hebat atau muntah terus-menerus.
- Napas cepat.
- Gusi atau hidung berdarah, atau darah pada muntahan dan tinja.
- Sangat lemas, gelisah, atau tampak mengantuk terus.
- Sangat haus, kulit pucat, dan teraba dingin.
Tanda-tanda ini dapat muncul justru ketika demam mereda. Karena itu, hari ketika demam turun bukan waktunya lengah, melainkan waktunya paling waspada.
Ikhtiar Rumah Tangga di Awal Musim Hujan: 3M Plus
Kementerian Kesehatan menekankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus: menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air. Bagian “Plus” mencakup menaburkan larvasida di penampungan yang sulit dikuras, memakai obat antinyamuk atau kelambu, memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi, serta tidak menggantung pakaian di dalam rumah.
Sudinkes Jakarta Barat menekankan peran aktif warga memeriksa jentik di rumah sendiri sebagai juru pemantau jentik (jumantik), karena deteksi dini jentik menjadi kunci memutus penularan. Wadah penampungan yang tidak ditutup rapat atau jarang dibersihkan dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes, bahkan di musim kemarau.
Bagi keluarga muslim, menjaga kebersihan lingkungan dan berobat ketika sakit adalah bagian dari ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ
“Berobatlah, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak meletakkan suatu penyakit kecuali Dia meletakkan pula obatnya, selain satu penyakit: tua.”
(HR Abu Dawud no. 3855, dari Usamah bin Syarik. Derajat: shahih menurut Al-Albani. Verifikasi: Sunnah.com)
Perintah berobat ini mencakup memilih jalan yang paling tepat. Untuk DBD, jalan itu adalah pemantauan medis dan cairan yang cukup.
Menimbang Daun Pepaya untuk DBD secara Jujur
Daun pepaya untuk DBD punya dasar penelitian awal dalam bentuk ekstrak yang tampak menaikkan trombosit, tetapi kualitas buktinya masih rendah, dosisnya belum jelas, dan belum terbukti mengurangi komplikasi berat. Hasil itu juga tidak otomatis berlaku untuk jus rumahan. Pemeriksaan dan pemantauan di faskes tetap tidak tergantikan.
Musim hujan juga membawa risiko kesehatan lain bagi keluarga. Amalan sunnah ketika hujan turun dan langkah menjaga kesehatan di musim ini dibahas dalam artikel sunnah saat hujan dan ikhtiar menjaga kesehatan keluarga. Untuk gambaran pemakaian herbal yang bertanggung jawab di rumah, baca juga manfaat madu dan herbal untuk keluarga.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah jus daun pepaya benar menaikkan trombosit?
Penelitian yang ada memakai ekstrak daun pepaya, bukan jus rumahan. Beberapa uji menunjukkan trombosit naik lebih cepat, tetapi meta-analisis Rajapakse dkk. (2019) menilai kualitas buktinya rendah dan belum merekomendasikannya untuk penggunaan rutin.
Apakah ada takaran daun pepaya yang aman untuk DBD?
Belum ada. Studi memakai sediaan dan dosis yang berbeda-beda, dan meta-analisis menilai dosisnya belum dioptimalkan. Bicarakan dengan dokter yang merawat sebelum memberikan ramuan apa pun.
Obat apa yang boleh diminum saat demam berdarah?
WHO menganjurkan parasetamol untuk demam dan nyeri, serta menghindari ibuprofen dan aspirin karena meningkatkan risiko perdarahan. Ikuti petunjuk dokter yang memeriksa.
Kapan pasien DBD harus segera dibawa ke rumah sakit?
Segera ke faskes bila ada nyeri perut hebat, muntah terus, perdarahan gusi atau hidung, sangat lemas atau gelisah, sangat haus, atau kulit dingin dan pucat, terutama ketika demam mulai turun.
Rujukan
- Rajapakse S, de Silva NL, Weeratunga P, Rodrigo C, Sigera C, Fernando SD. (2019). Carica papaya extract in dengue: a systematic review and meta-analysis. BMC Complementary and Alternative Medicine, 19:265. PMC6788024
- World Health Organization. Dengue and severe dengue (fact sheet), 21 Agustus 2025. who.int
- Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat (22 Oktober 2026). Hingga Pertengahan Oktober 2026, DBD di Jakbar Capai 1.808 Kasus. barat.jakarta.go.id
- Kementerian Kesehatan RI. Kendalikan DBD dengan PSN 3M Plus. kemkes.go.id
- Sumatera Ekspres (14 Oktober 2026). Data Dinkes Sumsel: 3.424 kasus DBD dan 18 kematian hingga 10 Oktober 2026. sumateraekspres.bacakoran.co
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 3855. sunnah.com/abudawud:3855
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter. DBD dapat memburuk dengan cepat; jangan menunda kunjungan ke fasilitas kesehatan.